Halaman

Jumat, 13 Oktober 2017

Refleksi pertemuan 4 : Narasi Seekor Ikan Kecil Mencari Air Jernih



Narasi Seekor Ikan Kecil Mencari Air Jernih 

Oleh : Trisylia Ida Pramesti

Perkuliahan Filsafat Ilmu dilaksanakan hari Selasa, 10 Oktober 2017 pukul 15.30 WIB di Gedung pasca baru lantai 1 ruang 11. Perkuliahan hari itu membahas tentang narasi besar kehidupan. Bapak Marsigit mengawali perkuliahan seperti biasa dengan berdo’a. Perkuliahan pada pertemuan kali itu berbeda dengan dari biasanya karena kelas kita dibentuk dengan setting berbaris 3 baris, dimana biasanya bersetting melingkar. Bapak Marsigit menjelaskan dengan metode berbeda bahwa kali ini  Bapak akan menjelaskan dengan cara berdiri yang beda dari biasanya, kalau biasanya duduk dengan maksud agar setara dan lebih dekat, sekarang dengan berdiri.
Dunia memiliki timelinenya, ada awal dan akhirnya. Sehingga sejatinya kehidupan kita saat ini berada di akhir yaitu ibarat seekor ikan kecil yang hidup di laut. Sehingga kita Mahasiswa yang sedang belajar filsafat itu sedang hidup menjadi ikan kecil mencari air yang jernih dari aliran air atau pengetahuan dari awal sampai akhir. Kenyataannya sekarang, banyak ikan yang mengalami kejadian seperti stress dan mengambang, ini menggambarkan ada manusia yang terkena berita-berita hoaxs karena berita-berita yang tidak jelas kebenarannya. Inilah pentingnya filsafat dalam menilik perjalanan kehidupan kita.
Filsafat dalam kehidupan kita adalah bahasa. Penggunaan bahasa dalam kehidupan kita sangatlah penting dan akan berbeda makna seiring berkembangnya zaman. Misalkan penggunaan kata “Bekas” dulu pada kata “Bekas Menteri” sekarang telah beralih dengan Mantan Menteri, dan perkembangan ini diharapkan menjadi lebih baik. Sehingga, sebenar-benar diri kita adalah bahasa. Bisa berupa kata-kata, tulisan, karya atau karya ilmiah. Bahasa berkembang dengan seiring berjalannya waktu. Misalnya penggunaan bahasa yang sangat frontal dan tidak baik di lagu-lagu kekinian. Ini menunjukkan perkembangan bahasa itu. Di dalam pikiran juga terdapat bahasa.
Kemudian, dunia dibagi menjadi dua yaitu dunia atas dan bawah. Dunia atas berkaitan dengan pikiran yang bersifat ontologis dan bersifat satu di dalam pikiran. Di bagian dunia atas ini maka terdapat pula spiritualisme atau kuasa tuhan. Sifat dari pikiran itu juga banyak sekali, bahkan bermilyar-milyar sifatnya. Salah satunya berlaku a =a , atau Identitas maka ini berlakunya hanya di pikiran. Terdapat pula sifat zonden atau nir artinya tidak terikat oleh ruang dan waktu. Sifat yang lain yaitu tetap, maka ada sifat absolut maka munculah filsafat absolutism oleh tokoh Plato disebut juga filsafat Platonism.
 Kebenarannya dalam pikiran yang penting adalah konsisten. Jadi di sini kita bisa membuat pengetahuan apapun dengan membuat definisi ttg sesuatu itu, membuat aksioma, dan membuat postulat dan terakhir membuat teorema membuatnya komplit jelas tanpa melihat pengalaman dibawah tidak apa-apa yang penting konsisten. Bahasa filsafat dari konsisten adalah koheren, maka muncullah filsafat koherentisme. Kenapa bisa bersifat konsisten dan koheren karena berlaku I sama dengan I, atau Identittas maka ini berlakunya hanya dipikiran. Karena yang didalam pikiran ini tidak terikat oleh ruang dan waktu. Jika ini dinaikkan terus maka akan tumbuh transendental yang filsafatnya adalah transedentalisme. Kebenarannya satu atau tunggal atau monoisme. Kebenarannya spiritualnya itu kuasa tuhan. Koheren, konsisten dalam pikiran itu menggunakan logika, maka muncul filsafat logisism tokohnya Sir B. Ruschel. Logika bersifat analitik.
Dunia yang kedua adalah dunia bawah. Dalam dunia bawah ini berlaku sifat a tidak sama dengan a yang artinya tidak ada manusia yang bisa sama persis dengan yang ia tunjuk, karena ia terikat oleh ruang dan waktu. Dalam hal ini maka munculah sifat kontradiksi dalam dunia bawah ini. duia dawah adalah dunia nyata. Siswa di tingkat dasar belajar dengan pengalaman nyata. Sehigga sifat dalam mencari ilmunya yaitu aposteriori yaitu pengetahuan dibangun dengan kegiatan penemuan baru dibuat ilmu. Maka kebenaran di dunia bawah bersifat pula plural. Dari sifat yang berubah maka muncul sifat yang lain yaitu real yang berangkat dari dunia real, maka muncul filsafat realisme oleh tokoh Aristoteles atau filsafat Aristotelianism. Kebenarannya bersifat plural dan relatif, maka muncul filsafat pluralisme dan relatifisme.
Dunia yang ada dibawah saling berkemistri. Dunia dibawah adalah dunia pengalaman. Berdasarkan rasio yang kemudian lahir rasionism tokohnya Renesdecartes. Maka mengerucutlah menjadi dunia rasio yang tokohnya Heum dan Renesdecartes untuk logis. Karena adanya 2 kubu yang saling bertentangan, munculah Immanuel Kant ia mulai menganalisis The Critick of Purealism bahwa pikiran adalah pikiran, konsisten adalah konsisten tapi, pikiran itu bersifat analitik. Analitik itu yang penting dari ide satu yang lain memiliki sifat konsisten. Disamping bersifat analitik pikiran juga bersifat a priori. A priori itu paham sebelum mengetahui kejadian. Contohnya dokter yang mengetahui obat dari mentelepon pasien, bisa mengambil kesimpulan dari konsistensi. Sedangkan yang dunia di bawah itu a posteriori. Sintetik itu bersifat kejadian satu dengan yang lain. Sehingga menurut Immanuel Kant ia menyimpulkan dan menggabungkan keduanya bahwa ilmu adalah sintetik a priori. Sebenar-benar ilmu adalah sintetik apriori. Karena ilmu itu dipikirkan dan juga di coba.
Sampai pada akhirnya muncul bendungan comte tokohnya Auguste Comte. Auguste Comte menyatakan untuk membangun dunia tidak usah bertele-tele, filsafat tidak bisa dipakai dan agamapun tidak bisa dipakai untuk membangun dunia. Karena menurut Comte agama tidak logis, inilah yang berbahaya. Membuat metode positifism atau saintifik yang disebut dengan fenomena Comte. Fenomena comte itu fenomena mementingkan dunia daripada akhiratnya. Sehingga munculah techonopoli yaitu bertekuklututnya budaya pada teknologi.
Sementara Indonesia, memiliki filsafat Pancasila yang terdiri dari materialisme, normatif, formatif, spiritualisme. Pancasila ini memiliki sifat monodualis yaitu habluminallah dan hablu minnannas, ada hubungannya dengan Sang Pencipta dan ada pula hubungannya dengan Sosial sesama manusia. Ini merupakan cita-cita, namuan setiap jenjangnya akan muncul dan menyelinap fenomena comte.
Kemudian ada pula struktur kehidupan sekarang yaitu terdiri dari Archaik, tribal, tradisional, feudal, modern, postmodern, post post modern atau PowerNow. Dimana agama hanya ada hingga tradisional saja. Menggunakan baju batik pun pada saat ini dilihat sebagai bangsa tribal. Maka dalam situasi seperti ini Indonesia belum berkembang. Feudal itu merupakan saat Belanda menjajah Indonesia dan munculnya paham Positifism dimana spiritualnya di tinggalkan. Sehingga Indonesia dianggap remeh dianggap tidak ada. Pilar-pilar kapitalisme, pragmatisme, utilitianisme, materialisme, liberalisme, dan hedonisme adalah pilar-pilar yang ada di Power Now.
Kurikulum di Indonesia kemudian mengadoptasi dari faham saintifik tadi. Dimana sebenarnya metode ini baru 1/3 dunia, Fenomena ini fenomena menajam. Padahal yang baik yaitu fenomena mengembang yang kemudian menjadi hermeunitika hidup. Kalau semua diselesaikan dengan metode saintifik tidak akan bisa. Ternyata tanpa sadar kita telah selaras dan menyediakan conter-conter power now.
Pada akhirnya, kita dalam belajar Filsafat bagaikan ikan ditengah laut yang telah tercemar oleh limbah powernow. Ada ikan yang mati, bermutasi dll. Walaupun kita ikan kecil maka kita harus bisa membedakan mana air yang bersih mana yang sudah terkena limbah. Untuk menjadi ikan kecil yang mampu bertahan dengan cara membaca, membaca dan membaca.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar