Halaman

Minggu, 15 Oktober 2017

Refleksi Perkuliahan ke-2: Tidak Ada Alasan untuk Berhenti Membaca



Refleksi Perkuliahan ke-2: Tidak Ada Alasan untuk Berhenti Membaca
Oleh : Trisylia Ida Pramesti

Perkuliahan filsafat ilmu pada hari Selasa pukul 15.30 WIB dilakukan di gedung pasca baru. Perkuliahan Filsafat kali ini dimulai dengan tes jawab singkat berkenaan dengan kehidupan dalam filsafat. Melalui pertanyaan-pertanyaan itulah kemudian kita menyadari siapa diri kita dan hakihat kehidupan itu sendiri. kehidupan yang dilihat dari kacamata filsafat.
Dari 25 pertanyaan yang berikan hanya sedikit sekali yang dapat menjawab pertanyaan beliau. Ini menandakan bahwa kita belum ada apa-apanya dengan ilmu beliau. Maka tidak ada alasan untuk selalu membaca, membaca dan terus membaca. Karena awal mula ilmu itu dari membaca, seperti layaknya Rasulullah SAW yang pertama kali mendapatkan wahyu, maka ayat yang pertama turun yaitu perintah untuk Iqro’ artinya bacalah.
Sesi selanjutnya yaitu pembahasan dari pertanyaan-pertanyaan beliau. Pertanyaan pertama yaitu siapa diri anda, jawabannya diri kita adalah hakikat. Filsafat memiliki 3 pilar yaitu hakikat atau onlotogi, metode atau epistemologi dan manfaat atau aksiologi. Dalam belajar filsafat, dimensi kita sudah beda, sudah ,meningkat, tetapi tetap harus memahami ruang dan waktunya.
Siapa diri kita, diri kita adalah potensi. Potensi jika dinaikkan menjadi dimensi spiritual adalah ciptaan tuhan. Jadi semua ciptaan Tuhan ini adalah potensi. Namun potensi disini belum ada arah, sehingga perlu diarahkan potensi ini ke arah yang baik. Misalkan peserta didik, kita sebagai pendidik haruslah sadar bahwa siswa pasti memiliki potensi maka guru harus menggembangkan potensi yang dimiliki anak itu dengan metode-metode inovatifnya. Potensi terdiri dari potensi vital dan potensi fatal.
Diri kita ini mau pergi memilih. Memilih apapun itu, meliputi apa yang ada dan yang mungkin ada. Setiap kata memiliki dunianya sendiri. Karena hidup itu adalah pilihan. Diri kita dengan pikiran kita. Apa yang berada di belakang kita adalah epoke. Epoke adalah sesuatu yang harus kita lupakan. Lupa yang sunatullah adalah bagian dari epoke. Menyimpan sesuatu di epoke. Maka semua yang ada dibelakang kita, tidak bisa kita lihat dan tidak dipikirkan. Epoke sangat penting dalam kehidupan kita, karena dengan itu kita bisa melangkah dengan enak menghadapi masa depan tanpa mengingat kehidupan yang lalu. Epoke adalah suatu bentuk fenomenologi.
Di depan kita ada fenomena. Di atas kita ada transenden, para dewa. Di bawah kita bayang- bayang. Dalam pewayangan bayangan adalah semar, atau bayangan bagong. Transenden adalah idealnya namun bayang-bayang adalah realitasnya. Semua diri kita adalah bayang-bayang sejarah. Kita sedang apapun atau mengada. Mengada adalah suatu perubahan atau proses aktif. Sebenar-benar hidup adalah mengada, kita pelaku yaitu pengada.
Obyek dalam filsafat meliputi yang Ada dan yang mungkin ada. Apa yang ada adalah hanya di pikiran saja. Apa yang kita belum mengerti itu namanya mungkin ada. Ciri-ciri ada yaitu ketika seorang bisa menyebutkan satu saja sifat. Maka sebenar-benar belajar itu dengan cara mengubah apa yang mungkin ada menjadi ada dengan cara membaca. Kita berada di dalam bahasa. Bahasa itu adalah filsafat itu sendiri. kekasih kita adalah milikmu. Apa yang kita benci adalah mitos. Mitos adalah selalu berada di keadaan nyaman. Bacaan kita juga meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Filsafat itu meliputi formal dan normatif. Filsafat juga memuat etik dan estetika.
Dalam belajar filsafat ini, kita juga banyak mengambil hikmah kebaikan yaitu berupa nasihat spiritual. Bagaimana kita untuk senantiasa tawakal dan berdoa setiap saat. Berdoa dimanapun kita berada, yakin jika Allah Maha Mendengar. Dan perkuliahan pun ditutup dengan doa yang hikmat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar