Halaman

Rabu, 06 Januari 2016

Penting Komunikasi dalam Kehidupan



Penting Komunikasi dalam Kehidupan

Perkuliahan ini adalah perkuliahan terakhir. Perkuliahan pengganti pada hari Kamis, 31 Desember 2015. Pada pertemuan ini akan membahas tentang peranyaan-pertanyan Mahasiswa, pertanyaan yang merdeka.
                Pertanyaan pertama yaitu dari saudara Septi yaitu pertanyaanya Bagaimana cara mengkominukasikan matematika terhadap siswa tentang materi yang abstrak ?. jawabanya yaitu sesuai dengan ruang dan waktunya. Memperhatikan pula learning trajectory nya. Maka dipengaruhi dari kemarin apa yang dipelajari dan bermanfaat untuk apa. Ini juga disebut dengan learning continue. Secara psikologi, learning continue di Indonesia itu berupa Realistic matematik yang mungkin gambarannya masih terlalu umum dan kasar. Matematika konkrit, matematika mdel kongkrit, matematika model formal dan matematika abstrak. Ruang dan waktu artinya Abstrak itu untuk anak SMA keatas, namun jika untuk anak anak maka matematika itu kongkrit. Cara mengkomunikasikan yaitu dengan cara memberdayakan siswa, memberi kesempatan untuk merefleksikan.
Begitau pula pada perkuliah filsafat ini, Guru ini memberi fasilitas siswa untuk belajar filsafat. Kita bisa membaca dari mana saja. Belajar itu harus akuntabel dan sustainable. Akuntabel artinya kepercayaan, percaya pada yang ada dan yang mungkin ada. Sedangkan sustainabel adalah berkelanjutan. Sebenar-benar hidup itu interaksi akuntabel dan sustainable. Kata – kata tidak dapat menggambarkan perasaanku. Inilah pentingnya komunikasi.
Pertanyaan selajutnya yaitu dari Hernestri tentang Apakah mencari Identitas juga termasuk dalam berfilsafat?. Belum tentu karena seseorang kadang ada yang sadar dan tidak sadar kalau ia sedang mencari identitas. Kebanyakan orang itu  tidak sadar, hanya sedikit orang mau menyampaikan, bahkan sedikit yang mau menyampaikan. Seseorang itu sejatinya raganya sedang disini namun pikirannya ada dimana mana. Pentingnya sebuah nama. Metode saintifik mengakibatkan seseorang mudah bertanya. Padahal tidak setiap pertanyaan harus dijawab, dalam ruang dan waktu saat itu, kadang malah tak membutuhkan jawaban saat itu.
Pertanyaan selanjutnya dari saudara Rizky Cahyaningtyas. Metode pembelajaran yang seperti apa yang tidak mengandung perbudakan. Yaitu metode yang melayani kebutuhan siswa. Yang berorientasi pada siswa. Dan tidak mengekang siswa, sedangkan pendidik adalah berfungsi sebagai fasilitator.
Pertanyaan selanjutnya yaitu Latifatul Karima yaitu bagaimana ciri orang yang telah menggapai ruang dan waktu. Diri kita sejatinya tengah menggapai ruang dan waktu, namun seringkali kita tidak menyadarinya. Bahkan batu saja sedang berada pada ruang dan waktu. Filsafat juga berkaitan dengan bahasa analog.
Pertanyaan selanjutnya berkaitan dengan paralogis dan antinomi yang disampaikan Diyah Wahyu Utami. Paralogis dan antinomi yaitu kesalahan para dewa. Dan sebagian daksa tidak tahu, dan daksa tidak tahu apa yang harus dilakukan. Tapi jika yang bersalah para daksa maka dewa bisa belaku semaunya. Itulah perbedaan dimensi struktural.
Pertanyaan selanjutnya yaitu oleh Atika Izzatul Jannah peratanyaan berkatan dengan usia yang mampu untuk berfilsafat. Jawabannya bisa jadi kapan saja, bisa jadi saat dalam kandungan. Belajar filsafat bisa denga elegi. Elegi itu berbicara tetang filsafat tanpa membicarakan dengan bahasa sehari hari. Ini untuk orang awam. Namun dalam bentuk frmal orang tua juga sulit mempelajari filsafat. Karena filsafat itu perlu penghayatan diam, karena sejatinya doing nothing itu penting.
Pertanyaan selanjutnya yaitu dari Saya sendiri yaitu yang berkaitan dengan apa hakikat malas. Malas itu gejala jiwa. Sebenarnya malas itu suatu potensi. Berati jika seseorang itu malas maka ia tidak bisa memanfaatkan ruang dan waktunya. Orang yang berhasil itu yang behasil menembus ruang dan waktu. Orang yang malas itu berati ia tidak mensyukuri dan tidak memahami apa yang terjadi kemarin, sekarang dan yang akan datang maka ini jadinya malas.
Pertanyaan selanjutnya dari saudari Tina, bagaimana cara kita agar tidak terjebak mitos. Kadang seserang memang tidak bisa terlepas dari mitos karena budaya dll. Misal kepercayaan masyarakat Jogja yang mempercayai penguasa laut selatan. Namun jika kita menaikkan dimensi kita terkait teknologi dan iptek, maka ada informasi bahwa Indonesia telah terkepung oleh pangkalan Laut Amerika. Maka urusan dunia dan akhirat itu ada gurunya. Guru akhirat itu menuntun mengarahkan ke akhirat, tapi guru dunia itu hanya menunjukki dan bahkan guru akan berkata jangan seperti guru itu karena ia harus berkembang. Maka supaya tidak terjebak mitos maka ia tidak berhenti. Mitos itu berada pada pikiran kita. Mitos itu ada manfaatnya pula. Untuk anak kecil bahkan mitos juga kebanyakan dipakai. Jangan berarti mitos tidak baik keseluruhan, namun memang ketika mulai dewasa mitos perlu dikurangi. Kadang kadang kita perlu untuk lupa.
Pertanyaan Arina Fauziah berkaitan tentang bagai mana memeberaikan ide. Bapak Marsigit menjelaskan jika ide itu tidak bisa diberikan ia bisa ditamamkan sudah ada dalam anak. Pertanyaan Novia tentang apakah mempunyai tekat yang kuat tentang masa depan itu menyalahi takdir. Menurut bapak ini adalah keterampilan hidup yaitu menyeimbangkan antara usaha dan do’a. Terus saja seperti itu, maka akan tercapai cita. Namun, secara psikologi akan ada resiko yaitu kekecewaan dll. Ini lah pentingnya komunikasi yaitu untuk komunikasi produktif. Karena kehidupan ini ada sebab dan akibat. Ada saatnya kita sabar, menunggu dan berdoa. maka ini berkaitan pula dengan potensi, bukan bakat. Karena bakat itu mitos. Mendidik berdasarkan bakat itu sangat mudah, yang penting yaitu bagaimana mendidik orang yang tidak berbakat.
Selanjutnya berkaitan tentang ilmu. Ilmu dari luar dan dari dalam. Ilmu dari luar itu kuat dari bentuknya, wadahnya. Namun ilmu dari dalam negri itu kaya akan isi, konteks. Maka jika ingin harmoni maka gunakan kedua ilmu itu. kemudian berkaitan perbedaan S1 dan S2 yang membedakan yaitu ekstensif dan intensifnya.
Pertanyaan selanjutnya Deary. Agama itu mengurusi kaitan dunia dan akhirat, sedangkan ilmu yang dunia hanya dunia saja sebatas memahami akhirat. Kodrat manusia itu relatif. Dan yang absolut masalah agama Tuhan. Ketika beragama maka perlulah torelansi, tapi tidak ada toleransi saat ibadah. Manusia itu hanya bisa ikhtiar. Tidak perlu sombong, karena sombong itu dapat membakar potensi. Apa apa itu sederhana saja.
Pertanyaan selanjutnya yaitu Fitriana Nur Hidayati,  bertanya bagaimana jika ada rekan kerja yang baik tapi, dibelakang ia menggujingkan diri kita. Intinya yaitu komunikasi. Mengkomunikasikan dengan dimensi yang harmonis. Pun mungkin ketika kita digunjingkan kita perlu introspeksi, jangan – jangan kita juga pernah menggunjingkan orang. Maka selanjutnya terkait ikhlas dan hati. Doa itu saa pikiran berhenti berurang dan menggunakan hati, namun doa lama lama fasenya menjadi tak sadar dan diambil alih dan tuhan lah yang mendoakan kita. Orang orang seperti ini orang yang mempunyai guru spiritual. Guru spiritual itu bagaimana cara kita bisa meneladani Sunnah Rasulullah.  Keikhlasan itu, berkaitan dengan akhirat. Beliau Bapak Marsigit menceritakan terkait menggapai wajah Rasulullah. Hakikat memandang wajah Rasulullah itu telah, sedang dan akan selalu memandang wajah Rasulullah, dalam kegiatan apapun. Maka Rasulullah pun punya guru yaitu Jibril. Kaitan dengan kehidupan kita ini merupakan energi, walaupun kita tidak melihat secara lahir, namun kita bisa memandang hati, batinnya. Keikhlasan itu perlu ada pembimbing.
Maka secara keseluruhan, yang terpenting dalam kehidupan dunia ini yaitu komunikasi sesama memahami dengan harmoni dan dimensi yang lebih harmoni. Komunikasi juga penting untuk membangun akhirat kita. Terkait hubungan kita dengan Rabb kita.

Meningkatkan Dimensi Diri



Meningkatkan Dimensi Diri
Perkuliahan filsafat kali ini pada hari Rabu, tanggal 2 Desember 2015. Diawali dengan seperti biasa dengan tes jawab singkat. Dimana ada perbedaan, biasanya Beliau memina merekam setelah tes jawab singkat, namun kali ini beliau meminta untuk meminta direkam dari awal dari tes jawab singkat. Dan tak lupa seperti biasanya perkuliahan dimulai dengan do’a, beliau tak melupakan hal yang penting dan utama yaitu do’a.
                Setelah tes jawab singkat maka saatnya untuk mengkoreksi jawaban teman, Beliau berpesan dalam mengkoreksi ini maka siapkan dirimu, dengarkan dan ikuti apa kata Guru agar bahagia dunia dan akhirat, dengan syarat petunjuk yang baik dan benar. Karena ada Guru yang memberi petunjuk yang sesat. Soal berjumlah 71 soal, dan semua koreksian untuk mencoret alias untuk mensalahkan semua, baik ini dijawab atau tidak benar atau tidak tetap Beliau meminta agar dicoret, sehingga artinya semua anak nilainya adalah NOL. Kemudian disesi penyebutan nama dan penyampaian nilai Beliau juga menasehati agar Mahasiswa tidak bersikap Hedon, atau terlalu berhura-hura.
Setelah sesi penyebutan nama dan nilai selesai, baru kemudian Beliau menyampaikan bahwa Beliau telah mencapai sempurna mendapatkan nilai Mahasiswanya nilai NOL semua. Namun yang megesankan yaitu ketika Beliau juga akhirnya menilai diri Beliau dengan nilai NOL juga untuk keadilan. Jadi maksud dari kegiatan yang mencengangkan ini yaitu beliau ingin mengajarkan keadilan kepada Mahasiswa. Bahwa menjadi Guru itu harus mengedepankan keadilan, misal jika siswa bekerja keras maka Guru juga harus bekerja keras dalam pembelajaran, seimbang. disini Beliau juga menyampaikan hakikat mendapat ilmu yaitu dengan cara tenang bukan dengan hura-hura, tokoh pada pewayangan itu tidak bisa menerima wahyu jika ia tak tenang.
Kemudian, Beliau menyampaikan bahwa inilah sejatinya terkait dengan Dimensi. Dimensi antara Bapak Marsigit dan Mahasiswa itu berbeda. Mahasiswa Daksa, bahkan diri kita sendiri ini daksa dari diri kita sendiri. Berkaitan dengan Tes jawab singkat itu dapat diketahui bahwa belajar filsafat itu tidak bisa dengan tes jawab sngkat, bahwa pelu dengan metode lain terutama membaca. filsafat itu menjelaskan bukan menjawab singkat.
Misalkan pertanyaan Idealisnya Realis itu tak bisa dijawab dengan tes jawab singkat, bahwa perlu diterangkan. Disini pula menjelaskan bahwa dalam belajar filsafat metode penilaian perkuliahan itu tidak bisa pula dengan melihat Ujian Akhir Semester (UAS). Karena sejatinya filsafat tidak bisa dengan cara seperti itu yang dapat dilakukan yaitu dengan menjelaskan atau menerangkan dunia. Idelnya Realis itu jika dibuat buku dengan tebal 10 meter belum selesai untuk menjelaskannya. Jangankan dua kata, satu kata itu sulit untuk dijelaskan. Materi terkait dang tes tersebut berkaitan dengan Identitas dan kontradiktif.
Kemudian beliau meminta Mahasswa meminta mana yang akan dijelaskan dari pertanyaan jawab singkat tadi. Pertama, saudara Ernawati menanyakan tentang awalnya akhir. Misalnya kuliah ini berakhir namun, ini baru awal dalam belajar filsafat. Misalnya dalam adat jawa ada kegiatan awalan d’a dan akhiran do’a. Dimana dalam do’a ini ada awalannya. Contoh lain yaitu ketika dulu perkuliahan pertama ditutup denga do’a berarti itu akhirnya awal. Maka dari olah pikir seperti ini kita bisa memperoleh keadaan yang tidak kita sadari filsafat punya ilmu. Maka terapkan itu pada kehidupan, dan pada pembelajarn matematika. Hidup itu tidak bisa terisolasi, kadang lgika manusia tidak bisa memikirkannya karena yang tau hanya Allah Ta’ala.
Kehidupan itu sebenarnya kaitan antara harmoni adanya keberlanjutan atau kontinue. Kereta saja yang berjalan saja kontinue. Jika hidup tak ada harmini maka hidup yang tidak sehat, ketika mau berhenti pun kereta harus berproses. Conthnya berfilsafat itu mendefinisikan apapun. Misalnya dengan suara seorang tuna netra bisa mendefinisikan kecepatan kerata yang melintas. Conth yang lain yaitu Suami Istri perlu penjelasan, tidak bisa jika hanya jawab singkat. Perlu knunikasi diantara keduanya perlu penjelaskan diantaranya. Dalam filsafat yang dijelaskan yaitu apa yang ada dibalik fenomena.
Dalam hal ini kunci filsafat tergantung dengan ruang dan waktu. Pertanyaan selanjutnya yaitu berkaitan dengan bolehnya tidak boleh. Duduk di pintu itu pada umumnya tidak boleh, duduk dijalan tidak boleh, tapi ternyata ada kejadian yaitu duduk akan memebenahi jalan. Jadi segala sesuatu itu tergantung dengan ruang dan waktu. Pun kehidupan itu haruslah seimbang. termasuk seperti harmininya disharmoni. Sebenar benarnya harmoni dipengaruhi oleh disharmoni.
Maka sebelun menilai sesuatu ketika melihat dis harmoni sesorang harus naik, kedimensi yang lebih tinggi, bagaimana kejadiannya. Jangan-jangan ini hanya kejadian sebagian dari keseluruhan. Maka sebaik baik hidup itu yang stabil. Belajar filsafat ini bermanfaat untuk memanfaatkan ilmu yang telah ada. Menerjemahkan apa yang ada dalam kehidupan ini. Menharmonikan kehidupan. Ketika menghadapi masalah, maka tinggikan dimensi melihat apa yang ada dibaliknya, melihat apa hikmak kejadian itu.

Perjalanan Menemukan Ideologi Pendidikan Indonesia



Perjalanan Menemukan Ideologi Pendidikan Indonesia

Perkuliahan Filsafat Pendidikan Matematika seperti biasa dilaksanakan hari Rabu, 11 November 2015 pukul 12.40 WIB diruang PPG 1 FMIPA. Perkuliahan hari itu membahas tentang Politik dan Ideologi pendidikan. Bapak Marsigit mengawali perkuliahan seperti biasa dengan berdo’a. Perkuliahan pada pertemuan kali itu berbeda dengan dari biasanya karena kelas kita dihadiri oleh observer dari Mahasiswa S3 dan satu Mahasiswa S1 kelas lain.
Pertama, Bapak Marsigit menjelaskan dengan metode berbeda bahwa kali ini  Bapak akan menjelaskan dengan cara berdiri yang beda dari biasanya, kalau biasanya duduk dengan maksud agar setara dan lebih dekat, sekarang dengan berdiri. Yang artinya Belia akan meningkat kadar determinisnya. Pada pembelajaran tradisional dengan ceramah maka disitu guru kadar detreminisnya sangat tinggi. Menjulang tinggi seperti gunung, karena kita berada di Jogja dan yang terkenal adalah gunung Merapi maka Beliau Bapak Marsigit menggunakan filsafat Gunung berapi. Guru bagaikan gunung berap yang idenya muncul keluar bagai larva yang panas dan berbahaya bagi siswanya. Dan yang bahaya karena akan merusak intuisi siswanya, intuisi para daksa. Disini guru bagaikan dewa. Diri kita ini jiga sejatinya adalah dewa, dewa dari apa yang kita miliki. Contoh Kita mempunyai handphone maka kita adalah dewanya handphone.
Sebenar-benar kita adalah reduksi. Maka manusia adalah reduksionis. Reduksionis dalam rangka membangun dunia, minimal dunia yang dipikirkan. Dunia dapat bersifat tetap, dan tetap disini baru separuh sifat dunia, sedangkan separuhnya yang lain yaitu bersifat berubah. Sebenar – benar hidup adalah interaksi antara yang tetap dan berubah. Contohnya yang tetap dari diri ku dan diri kita semua adalah takdir mati itu ada ditangan tuhan, itu adalah suatu contoh ketetapan. Contoh yang lain bahwa kita tetap mempunyai orang tua. Contoh yang berubah yaitu diri kita sendiri, karena belum selesai kita menunjuk diriku maka diriku yang tadi sudah berubah ke diriku yang sekarang, karena filsafat memperhatikan ruang dan waktu.
Dunia memiliki struktur. Struktur dunia yaitu seperti siang dan malam, tua dan muda, laki – laki dan perempuan, yang ada dan yang mungkin ada adalah contoh struktur. Contoh yang lain struktur dalam matematika yaitu titik, garis dll. Dari sifat dunia yang tetap tadi letaknya berada di pikiran. Sedangkan sifat dunia yang berubah berada diluar pikiran. Satu sifat juga dapat menggambarkan dunia. Contoh kita sebut sifat tetap maka ada dunia tetap, berubah maka ada dunia berubah. Maka dari semua apa yang ada dan yang mungkin ada jika kita taruh depannya dengan kata dunia maka sudah bisa menggambarkan dunia tersebut. Contoh kita sebut benda tempe maka ada dunia tempe, kita sebut menyanyi maka ada dunia menyanyi, kita sebut artis maka ada dunia artis. Maka sebanyak apapun yang kita sebutkan itu adalah sifat. Sehingga sebenar-benar dunia adalah sifat itu sendiri. Jadi masing-masing memiliki dunia dan konstruksinya.
Sifat dari pikiran itu juga banyak sekali, bahkan bermilyar-milyar sifatnya. Sifat dunia yang tetap maka muncullah tokoh pengembangnya yaitu Termenides, sehingga lahir filsafat termenidesism. Kemudian untuk sifat yang berubah tokohnya adalah Herakclitos, sehingga lahir filsafat Herakclitosiasism. Dunia memiliki milyaran sifat.
Sifat yang lain yaitu dari sifat yang tetap maka ada sifat absolut maka munculah filsafat absolutism tokoh Plato disebut juga filsafat Platonism. Dari sifat yang berubah maka muncul sifat yang lain yaitu real yang berangkat dari dunia real, maka muncul filsafat realisme oleh tokoh Aristoteles atau filsafat Aristotelianism. Kebenarannya dalam pikiran yang penting adalah konsisten. Jadi di sini kita bisa membuat pengetahuan apapun dengan membuat definisi ttg sesuatu itu, membuat aksioma, dan membuat postulat dan terakhir membuat teorema membuatnya komplit jelas tanpa melihat pengalaman dibawah tidak apa-apa yang penting konsisten. Bahasa filsafat dari konsisten adalah koheren, maka muncullah filsafat koherentisme. Kenapa bisa bersifat konsisten dan koheren karena berlaku I sama dengan I, atau Identittas maka ini berlakunya hanya dipikiran. Karena yang didalam pikiran ini tidak terikat oleh ruang dan waktu. Jika ini dinaikkan terus maka akan tumbuh transendental yang filsafatnya adalah transedentalisme. Contohnya yaitu ayam adalah transenden nya cacing, Guru transendennya siswa, Dewa transendennya daksa. Jika dinaikkan lagi akan muncul spiritualisme. Me itu pusatnya maka jika spiritualisme maka pusatnya adalah spiritual. Kebenarannya satu atau tunggal atau monoisme. Kebenarannya spiritualnya itu kuasa tuhan. Koheren, konsisten dalam pikiran itu menggunakan logika, maka muncul filsafat logisism tokohnya Sir B. Ruschel.
Untuk yang real yang berubah kebenarannya bersifat cocok atau korespondensi, maka muncullah filsafat korenpondensinism.  Sedangkan ini terikat oleh ruang dan waktu. Maka I yang satu beda dengan I yang lain. Contoh yaitu a=a+1 disini a yang pertama beda dengan a yang kedua. A yang pertama adalah wadah dari a yang kedua. Kebenarannya bersifat plural dan relatif, maka muncul filsafat pluralisme dan relatifisme. Ini merupakan sejarahnya. Dunia yang ada dibawah saling berkemistri. Dunia dibawah adalah dunia pengalaman atau empiris maka lahir empirisme tokohnya Bennit Heum. Berdasarkan rasio yang kemudian lahir rasionism tokohnya Renesdecartes.
Yang rasio, yang logis itu bersifat normal yang artinya mementingkan wadahnya. Diatasnya maka muncullah formalism tokohnya Hirget. Maka mengerucutlah menjadi dunia rasio yang tokohnya Heum dan Renesdecartes untuk logis. Sehingga muncul 2 kubu yang saling bertentangan. Sehingga muncullah Immanuel Kant ia mulai menganalisis The Critick of Purealism bahwa pikiran ya pikiran, konsisten ya konsisten tapi pikiran itu bersifat analitik. Analitik itu yang penting dari ide satu yang lain memiliki sifat konsisten. Disamping bersifat analitik pikiran juga bersifat a priori. A priori itu paham sebelum mengetahui kejadian. Contohnya dokter yang mengetahui obat dari mentelepon pasien, bisa mengambil kesimpulan dari konsistensi. Sedangkan yang dibawah itu a posteriori. Sintetik a posteriori. Sintetik itu bersifat kejadian satu dengan yang lain. Sehingga menurut Immanuel Kant ia menyimpulkan ilmu adalah sintetik a priori. Sebenar-benar ilmu adalah sintetik apriori. Karena ilmu itu dipikirkan dan juga di coba.
Sampai pada akhirnya muncul bendungan comte tokohnya Auguste Comte. Auguste Comte menyatakan untuk membangun dunia tidak usah bertele tele, filsafat tidak bisa dipakai dan agamapun tidak bisa dipakai untuk membangun dunia. Karena menurut Comte agama tidak logis, inilah yang berbahaya. Membuat metode positifism atau saintifik yang disebut dengan fenomena Comte. Fenomena comte itu fenomena mementingkan dunia daripada akhiratnya. Sehingga muncullah techonopoli yaitu bertekuklututnya budaya pada teknologi.
Sementara Indonesia, memiliki filsafat Pancasila yang terdiri dari materialisme, normatif, formatif, spiritualisme. Pancasila ini memiliki sifat monodualis yaitu habluminallah dan hablu minnannas, ada hubungannya dengan Sang Pencipta dan ada pula hubungannya dengan Sosial sesama manusia. Ini merupakan cita-cita, namuan setiap jenjangnya akan muncul dan menyelinap fenomena comte.

Selasa, 29 September 2015

Refleksi Pekuliahan Pertama Filsafat Pendidikan Matematika



REFLEKSI PERKULIAHAN PERTAMA
FILSAFAT PENDIDIKAN MATEMATIKA
PROF. DR. MARSIGIT, M. A

Hari, Tanggal             : Rabu, 16 September 2015
Ruang                          : R.PPG 1
Jam                              : 12.40-14.40 WIB
Judul                           : Kiat Belajar Filsafat untuk Pemula

Pada pertemuan pertama perkuliahan Filsafat Pendidikan Matematikaini Bapak Prof. Dr. Marsigit, M.A memberikan materi pengenalan berkaitan dengan Filsafat dan beberapa hal terkait dengan perkuliahan ini.
Beliau mengawali dengan materi Filsafat secara umum. Filsafat memiliki banyak cabang. Contohnya yaitu Filsafat berdasarkan tingkatnya filsafat Sekolah dasar, Sekolah Menengah, dan Sekolah Tinggi. Filtafat yang dilihat tidak relevan pun pasti ada relevansinya misalnya Filsafat Lokasi dapat disebutkan lagi Filsafat Selatan, Filsafat Utara, Filsafat Timur dan Filsafat Barat. Contoh yang lain yaitu Filsafat benda, misalkan filsafat meja, kursi, handphone, dan kacamata.
Dalam kehidupan sehari-hari terdapat sintak atau urut-urutan dan terdapat pula filsafatnya. Misalnya dalam menggoreng tempe itu terdapat sintak yaitu pertama menaruh wajan yang cekung di bawah lalu memberi minyak, kemudian tempe di masukkan dengan posisi tempe yang datar di bawah lalu jika sudah matang satu sisi kemudian di balik kesisi satunya. Tempe terdapat filsafatnya kenapa dibentuk tidak rata di satu sisinya agar mudah ketika membaliknya tadi. Dalam hal ini sintak atau urut-urutan tadi adalah suatu logika. Terdapat pula aturan sebab akibat, contohnya ketika menggoreng tempe itu wajan harus cekung dibawah, kalau membentuk cembung maka minyak akan tumpah. Maka dalam menggoreng tempe ini pun mengandung aturan sebab akibat.
Bapak Prof. Dr. Marsigit, M.A menyampaikan hal yang terpenting lagi yaitu ketika kita akan belajar Filsafat Pendidikan Matematika maka mau tidak mau kita harus belajar terlebih dahulu Filsafat nya. Baru kemudian pendidikan Matematika akan mengalir dengan sendirinya.
Beliau kemudian menjelaskan mengenai perkuliahan dimana perkuliahan ini terdiri dari perkuliahan tatap muka, kemudian ada tes ter tulis harian, kegiatan refleksi perkuliahan ini yang ditulis kembali lalu di taruh di blog masing-masing, kuliah online yaitu membaca posting-posting yang dibuat oleh Bapak. Dalam perkuliahan ini terdapat syarat perlu dan syarat cukup. Syarat perlu yaitu untuk hadir dalam perkuliahan 75%, tugas, dan ujian. Dalam perkuliahan ini akan mudah penilaiannya yaitu dilihat dari responsif, kerajinan, dan pendapatnya melalui comment.
Syarat perlu saat comment adalah ikhlas. Terdapat dua macam iklas yaitu ikhlas hati dan pikir. Ikhlas dalam hati itu memiliki arti sungguh- sungguh, diniatkan dalam hati, benar-benar ikhlas, benar-benar senang, bersemangat. Ikhlas dalam pikir itu memiliki arti memahami apa yang ditulis. Lalu kriteria comment yang baik yaitu yang membuat tertarik untuk membaca. Misalnya karena ada hal yang melenceng, karena by track, karena kreatifitas.
Kemudian Beliau juga menyampaikan penilaian. Bahwa Dosen dapat menilai A, A-, B+, B , B-, C, D ,E. Jika ada Mahasiswa mendapatkan nilai E mungkin Mahasiswa yang abai, frustasi, memiliki masalah keluarga, kuliah tidak serius, yang memiliki masalah komunikasi. Contoh abai yaitu karena kesombongan. Kalau terkait teknis tidak ada masalah. Dengan menggunakan Blog ini benar-benar digunakan hanya untuk belajar dan belajar. Kunci dalam belajar Filsafat yaitu membaca. Tiadalah filsafat jika tidak membaca.
Materi selanjutnya yang Beliau sampaikan yaitu Obyek Filsafat. Obyek dari filsafat yaitu hal yang ada dan mungkin ada. Yang ada itu mencakup semua hal yang bisa kita sebut sebanyak apapun itu tak berhingga. Contoh ketika kita menyebutkan satu benda Bus, maka masih banyak lagi macamnya ada Bus kecil, besar, hitam dll. Ini baru bus. Contoh yang lain ada baju, baju merah, baju panjang dll. Sebanyak apa pun yang disebutkan belum seleseai menceritakan apa yang ada yang ketahui. Begitupun dengan yang tidak diketahui banyak hal yang tidak ketahui.
Adapun Hal yang tidak diketahui ini terdapat banyak macamnya yaitu besar, kecil, jauh, dekat, tinggi , rendah, dalam, dangkal. Diantar yang banyak sekali ini ada yang berpotensi untuk diketahui. Itu lah yang di maksud dengan yang mungkin ada. Contoh dari hal yang mungkin ada akan mudah di praktekkan dalam kehidupan. Berikut adalah proses terjadinya yang mungkin ada untuk menjadi ada. Misalnya  yaitu tentang tanggal lahir Cucu Beliau. Dimana kedudukan tanggal lahir tersebut bagi para Mahasiswa yaitu sesuatu yang tidak ada didalam pikiran Mahasiswa. Filsafat ini adanya dalam pikiran. Yang mungkin ada itu dimana ada perasaan yang mengatakan ini akan diberitahukan.
Tanggal lahir cucu Beliau ini ibaratkan wahyu jika jaman dahulu, namun merupakan pengetahuan jika jaman sekarang. Wahyu atau pengetahuan ini sekarang bisa di dapat dimana saja asalkan membuka hati dan pikiran untuk melihat keadaan sekitar. Wahyu ini beraneka ragam misalnya wahyu dalam kehidupan dulu seperti wahyu untuk menjadi raja. Wahyu ini diberikan oleh pemberi dan akan menempel pada si penerima. Wahyu ini berada pada pikiran sehingga tidak bisa diminta tidak ada wujudnya.
Belajar filsafat ini akan meningatkan syukur kita pada Tuhan. Dimana untuk mendapatkan pengetahuan kita tidak perlu sesuatu teknis seprti layaknya hanphone yang harus di atur terlebih dahulu. Namun manusia, dengan tenaga dari makanan sudah bisa mendapatkan pengetahuan.
Sehingga, Filsafat ini di pelajari dengan prinsip-prinsip hidup. Prinsip hidupnya ini salah satunya mencakup komunikasi. Alat untuk belajar filsafat yaitu bahasa analog. Bahasa analog adalah lebih tinggi dari bahasa kiasan. Misalkan jika di sebutkan hati maka akan bermakna spiritual, Tuhan, doa, dan akhirat. Jika di sebutkan pikiran bisa bermakna logika, dunia. Penggunaan bahasa analog ini berfungsi untuk mengkomunikasikan hal-hal yang sulit untuk di komunikasikan jika hanya di jelaskan dengan bahasa biasa. Karena bahasa biasa ini terbatas oleh ruang dan waktu.